MAKALAH PENDIDIKAN DI ERA MILENIUM
PENDIDIKAN DI ERA MILENIUM
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan adalah udaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarkat, bangsa, dan Negara
sehingga dalam melaksanakan prinsip penyelenggaraan pendidikan harus sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional yaitu ; mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangssa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri.
Di Indonesia sendiri, untuk saat ini sudah
berlangsung Program WAJAR atau program wajib
belajar 9 tahun. Metode pembelajaran pun berkembang. Jika melihat
sejarah pendidikan bangsa indonesia dahulu, mereka hanya menggunakan daun
sebagai media pembelajaran, seiring dengan kemajuan teknologi media
pembelajaran indonesia semakin berkembang menjadi menggunakan media yang
berbasis komputerisasi dan teknologi. Dapat dilihat bahwa pendidikan Indonesia
di awal era millenium ke-3 sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi
sehingga persaingan global semakin ketat. Untuk menghadapi kondisi milineum
ketiga yang semakin tidak bisa diprediksi tersebut, diperlukan kesipan sikap
mental manusia untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat. Orang tidak bisa
lagi bersifat reaktif, hanya menunggu dan menghindari setiap persoalan atau
resiko demi resiko, dengan mempertahankan status-qua. Tepai pada era milineum
ketiga, orang lebih bersifat proaktif dengan memiliki toleransi atas
ketidakjelasan yang terjadi akibat perubahan dengan tingkat dinamika yang
tinggi.
B. Tujuan
1.
Mengetahui pengertian
pendidikan millennium III
2.
Mengetahui gamabaran
pendidikan Indonesia era millennium III
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pendidikan
Secara
historis, pendidikan dalam arti luas telah mulai dilaksanakan sejak manusia
berada di muka bumi.
Secara
operasional, pendidikan bermakna persekolahan (system pendidikan formal).
Terdapat
beberapa pengertian pendidikan menurut berbagai sumber, yaitu :
a.
Pendidikan menurut UU RI. NO.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaam,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
b.
Pendidikan menurukut Ki Hajar Dewantara adalah daya upaya untuk memajukan
pertumbuhannya budi pekerti (kekuatan batin, karakter) pikiran(intelek) dan
fisik anak.
c.
Pendidikan berasal dari kata bahasa yunani
kuno yaitu
kata “ Pedagogi “ kata dasarnya “ Paid “ yang
berartikan “ Anak “ dan Juga “ kata Ogogos “ artinya “ membimbing ”. dari
beberapa kata tersebut maka kita simpulkan kata pedagos dalam bahasa yunani
adalah Ilmu yang mempelajari tentang seni mendidik Anak .
d.
Pengertian pendidikan
menurut Prof. Dr. M.J Langeveld adalah“ Pendidikan ialah pemberian
bimbingan dan bantuan rohani bagi yang masih memerlukannya”.
B. Pengertian Millennium III
Secara etimologis, millennium berasal dari bahasa latin yaitu
millie yang artinya seribu dan anus yang artinya tahun.
Secara terminologis, milenium adalah masa atau jangka
waktu seribu tahun.
Milenium
ketiga dapat diartikan sebagai rentang antara tahun 2000 sampai tahun 3000.
C. Pengertian
Pendidikan Millennium III
Dari kedua bahasan tersebut dapat kita
ketahui bahwa ilmu pengetahuan pendidikan millennium ketiga adalah suatu proses
pembelajaran manusia dalam hal keterampilan, kecerdasan intelektual, teknologi,
sikap dan perilaku dan banyak hal di era 2000 hingga 3000. Hal yang menjadi
penting di era ilmu pengetahuan pendidikan millennium 3 ini adalah ilmu
pengetahuan yang digunakan sudah berbasis komputerisasi dikarenakan pada era
tersebut dunia telah masuk ke era yang lebih canggih. Dahulu sebelum tahun 2000
kebanyakan murid dan guru hanya dapat memdapatkan ilmu pengetahuan dari buku
ataupun lingkungan saja. Ilmu yang didapatkan pun terbatas hanya di bagian –
bagian tertentu saja. Namun kini di era globalisasi, ilmu pengetahuan dapat
dicari atau didapatkan di berbagi tempat. Dari komputer, laptop, hingga
smartphone yang selalu di bawa. Dengan kecanggihan teknologi maka ilmu
pengetahuan pun ikut berkembang, tidak hanya membahas mengenai hubungan manusia
dengan manusia dan manusia dengan alam serta manusia dengan makhluk hidup
lainnya. Namun sudah merambah ke bidang robot, otomasi industri, dan berbagai
hal yang berhubungan dengan teknologi.
Pendidikan di era millennium 3 ini tidak
hanya sebatas pendidikan di ruang kelas, akan tetapi pendidikan dapat dilakukan
di mana saja seperti ruang terbuka, hutan, alam, industri dan lain sebagainya.
Sehingga murid atau peserta didik akan lebih mudah memahami ilmu pengetahuan
dengan terjun langsung kelapangan. Tidak hanya itu pendidikan di era millennium
3 ini sudah meluas mempelajari kehidupan, corak, budaya, kegiatan, adat dari
bangsa – bangsa lain di seluruh dunia. Hal tersebut memberikan wawasan yang
cukup luas dari berbagai sektor kehidupan.
D. Tantangan-Tantangan Pendidikan Indonesia Milliennium III
Tantangan-tantangan pendidikan Indonesia
dibagi menjadi 2 yaitu:
1.
Faktor internal (faktor dari dalam pendidikan)
a.
Penguatan nilai kesatuan dan pembinaan moral bangsa
Pendidikan berupaya
menanamkan nilai-nilai moral kepada peserta didik dan tantangan nyata bagi guru
adalah bagaimana seorang guru memiliki kepribadian yang kuat dan matang
untuk dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika serta meyakinkan peserta
didik terhadap pentingnya rasa kesatuan sebagai bangsa. Rasa persatuan yang
telah berhasil ditanam berarti bahwa seseorang merasa bangga menjadi bangsa
Indonesia yang berarti pula bangsa terhadap kebudayaan Indonesia yang menjunjung tinggi etika dan
nilai luhur untuk siap menjadi masyarakat abad 21 yang kuat dan dapat
mewujudkan demokrasi dalam arti sebenarnya.
b. Pengembangan
nilai-nilai demokrasi
Demokrasi dalam bidang
pendidikan adalah membangun nilai-nilai demokratis, yaitu kesamaan hak setiap
warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak dan juga kewajiban yang
sama bagi masyarakat untuk membangun pendidikan yang bermutu. Dalam pengertian
ini, guru sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan itu
sendiri mempunyai tantangan bagiamana membantu dan mengembangkan diri peserta
didik menjadi manusia yang tekin, kreatif, kritis, dan produktif dan tidak
sekedar menjadi manusia yang selalu mengekor seperti ‘bebek’ yang hanya
menerima petunjuk dari atasan dalam mewujudkan pendidikan yang demokratis,
perlu dilakukan berbagai penyesuaian dalam sistem pendidikan nasional.
c.
Fenomena rendahnya mutu pendidikan
Berbagai hasil studi dan
pengamatan terhadap mutu pendidikan pada berbagai negara menunjukkan bahwa
secara makro mutu pendidikan di Indonesia masih rendah, dan bahkan secara nilai
rata-rata di bawah peringkat negara Asean lainnya. Walaupun demikian, secara
individual ada beberapa diantara peserta didik mampu menunjukkan prestasinya di
lomba-lomba bertaraf internasional, seperti pada Olimpiade Fisika. Untuk
mewujudkan masyarakat yang cerdas, diperlukan proses pendidikan yang bermutu dan
kunci utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah mutu guru. Proses
pendidikan dalma masyarakat abad 21 adalah suatu interaksi antara guru dengna
peserta didik sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
masyarakat yang demokratis dan terbuka.
Masyarakat yang demikian
menuntut adanya pelayanan yang profesional dari para pelakunya dan guru adalah
seorang profesional dalam masyarakat seperti itu. Dengan kata lain, guru
dituntut untuk berperlaku dan memiliki karakteristik profesional oleh karena
tuntutan dan sifat pekerjaanya dan bersaing dengan profesi-profesi lainnya.
Dalam masyarakat abad 21, hanya akan menerima seorang yang profesional
dalam bidang pekerjaannya. Tantangan guru pada masyarakat abad 21 adalah bagaimana menjadi seorang guru yang profesional untuk
membangun masyarakat yang mandiri, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi,
berprestasi, saling menghormati atas dasar kemampuan individual, menjunjung
tinggi rasa kebersamaan, dan mematuhi nilai-nilai hukum yang berlaku dan disepakati
bersama.
2.
Faktor eksternal (faktor dari luar)
a. Kecenderungan kehidupan global yang
terbuka.
Globalisasi yang terbuka ini menyebabkan
adanya perdagangan bebas, kompetisi dan kerjasama yang saling
menguntungkan, memerlukan manusia yang bermutu dan dapat bersaing dengan sehat.
Dalam melakukan persaingan, diperlukan mutu individu yang kreatif dan inovatif.
Kemampuan individu untuk bersaing seperti itu, hanya dapat dibentuk oleh suatu
sistem pendidikan yang kondusif dan memiliki guru yang profesional dalam
bidangnya.
b. Kreativitas guru dalam pemberian bekal kepada
peserta didik
Tatangan ini ditujukan kepada tenaga
pendidikan khususnya guru. Guru
dituntun untuk berpikir kreatif yang mana mampu memberi bekal kepada
peserta didik, selain ilmu pengetahuan dan teknologi, juga menanamkan sikap
disiplin, kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dengan demikian para sisiwa
mempunyai bekal yang memadai, tidak hanya dalam hal ilmu pengetahuan dan
keterampilan yang relevan tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang
kuat sebagai bangsa Indonesia.
E. Visi
dan Misi Dalam Menghadapi Pendidikan Era Millennium III
Visi dan misi Indonesia menurut keputusan KEMENDIKNAS
tahun 2014 yaitu:
a.
Visi pemerintah Indonesia dalam dalam menghadapi pendidikan di era Milenium
ketiga secara garis besarnya yaitu:
“Terselenggaranya Layanan Prima Pendidikan Nasional
untuk Membentuk Insan Indonesia Cerdas Komprehensif”
Artinya sejalan dengan amanah UUD 1945 pasal 31 yang
isinya bahwa :
I.
Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran
II. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
satu system pengajaran nasional, yang diatur dengan UUD 1945.
Pemerintah
berkomitmen memberikan pelayanan secara prima kepada masyarakat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sehingga memiliki wawasan dan keilmuan
yang sesuai di bidangnya.
b. Untuk mewujudkan visi pendidikan
Indonesia pada millennium ke 3 ini, maka pemerintah memiliki beberapa misi yang
dikemas dalam “5K”, antara lain:
Ketersediaan
Meningkatkan ketersediaan
layanan pendidikan. Sebagai upaya menyediakan sarana-prasarana dan
infrastruktur satuan sekolah dan penunjang lainnya
Keterjangkauan
Memperluas keterjangkauan layanan pendidikan. Mengupayakan kebutuhan biaya pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat.
Memperluas keterjangkauan layanan pendidikan. Mengupayakan kebutuhan biaya pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat.
Kualitas
Meningkatkan kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan. Sebagai upaya mencapai kualitas pendidikan yang berstandar nasional dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing bangsa.
Meningkatkan kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan. Sebagai upaya mencapai kualitas pendidikan yang berstandar nasional dalam rangka meningkatkan mutu dan daya saing bangsa.
Kesetaraan
Mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan. Tanpa membedakan layanan pendidikan antarwilayah, suku, agama, status sosial, negeri dan swasta, serta gender.
Mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan. Tanpa membedakan layanan pendidikan antarwilayah, suku, agama, status sosial, negeri dan swasta, serta gender.
Kepastian Jaminan
Menjamin kepastian
memperoleh layanan pendidikan. Adanya jaminan bagi lulusan sekolah untuk
melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau mendapatkan lapangan kerja
sesuai kompetensi.
F. Masalah
Pendidikan Era Millennium Ketiga
1.
Kualitas
Pendidikan
Ada beberapa indikator yang dapat
digunakan sebagai tanda yang memberi tahu tentang kekhawatiran kita mengenai
mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Beberapa indikator itu diantaranya
ada mutu guru yang masih rendah pada semua jenjang pendidikan, alat-alat bantu
proses pembelajaran yang belum memadai. Selain itu, dari proses pendidikan era
milenium ini telah menghasilkan juga potret kondisi bangsa yang mengalami
krisis moral. Enam kerusakan moral yang dialami bangsa kita, yaitu :
1)
Prestasi
bangsa Indonesia dimata dunia
Saat
ini dunia mengenal dengan prestasi yang amat memalukan, yaitu korupsi.
2)
Pejabat
public yang tunamoral
Jabatan
bukan dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan, melainkan
sebagai kesempatan untuk meraup keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya.
3)
Penegakan
hukum yang timpang
Hukum
hanya berlaku tegas untuk orang miskin, namun ketika keatas hukum sangat
tumpul.
4)
Masyarakat
yang tumpul
Seperti
tawuran antarmahasiswa, antarwarga, maupun antarpelajar.
5)
Guru
yang tidak patut ditiru
Hilangnya
keteladanan dalam kerja keras, kepercayaan diri, malas membaca dan kejujuran.
6)
Generasi
muda yang sakit
Kasus
contekan masal dalam ujian nasional, penganiayaan dan kekerasan dalam
lingkungan sekolah, hamil diluar nikah, aborsi yang meningkat, narkoba dan
minuman keras, dan pencurian dengan pelaku remaja.
2.
Relevansi
Pendidikan
Diukur
dari keberhasilan sistem dalam memasok tenaga-tenaga terampil dalam jumlah yang
memadai bagi kebutuhan sektor pembangunan. Namun faktanya, semakin besar
pengangguran lulusan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
3.
Elitisme
Kecenderungan
penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah menguntungkan oleh kelompok
masyarakat yang kecil atau tidak mampu. Mahalnya biaya pendidikan membuat
masyarakat miskin tidak mampu melanjutkan pendidikan. Dalam hal ini pemerintah
memberikan subsidi pendidikan yang lebih besar pda pendidikan tinggi dibanding
pendidikan dasar.
4.
Manajemen
Pendidikan
Pendidikan
harus dikelola secara profesional. Ketiadaan manajer pendidikan profesional
mengharuskan kita mengadakan terobosan untuk membawa pendidikan sejalan dengan
langkah-langkah pendidikan yang semakin cepat. Peta permasalahan pendidikan ini
sangat kompleks yang bukan hanya masalah teknis tapi juga kegiatan perencanaan,
pendanaan dan efesiensi dari sistem itu sendiri.
KESIMPULAN
Dari hasil diskusi
kelompok kami tentang pendidikan Indonesia di era millennium ketiga disimpulkan
bahwa pendidikan Indonesia di era millennium ketiga seharusnya sudah mencapai
titik maksimum dalam mengembangkan kreativitas peserta didik ataupun pendidik
agar keduanya bisa menjadi tumpuan untuk menghadapi era millennium ketiga yang
didominasi oleh daya saing dari segala aspek; ekonomi, social, budaya,
kreativitas dan teknologi. Oleh karena itu pendidik dan peserta didik
diharapkan menyadari adanya persaingan atau kompetisi dalam segala aspek
tersebut agar tidak tertinggal oleh pesaing yang lain dengan tidak melupakan
nilai moralitas, spiritualitas dan sosialitas dalam kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Raliby, Osman. 1982. Kamus
Internasional. Jakarta: Bulan Bintang.
Suyanto dan Hisyam. 2000. Refleksi dan
Reformasi Pendidikan di Indonesia
Memasuki Milenium III.
Yogyakarta: Adi Citra Karya Nusa.
Tilaar. 1999. Pendidikan, Kebudayaan,
dan Masyarakat Madani Indonesia,
Strategi Reformasi
Pendidikan Nasional Remaja. Bandung: Rosdakarya
Offset.
Komentar
Posting Komentar